Selasa, 16 Oktober 2018

Proses adalah hal utama

Proses adalah hal utama

Suatu sore di sebuah rumah sederhana di pinggiran sawah, ada seorang lelaki berusia 50an tahun sedang duduk santai di teras rumahnya. Jari telunjuk dan jari tengahnya menjepit sebuah batang rokok yang sudah terbakar setengah.  Lelaki tersebut memakai kaos polos dan bercelana pendek, perawakannya tegap, penuh wibawa, beberapa rambutnya sudah nampak putih. Di depannya sudah ada secangkir kopi hitam panas dan beberapa buku tebal tentang etika; yang menemaninya sore itu. Tangan kirinya sedang memegang handphone layar besar, jempolnya menari-nari di atas layar; ternyata lelaki ini sedang membuka aplikasi twitter dan membaca cuitan-cuitan yang ada di linimasa.

"Kakeeeek..kakeeeeek" tiba-tiba keheningan terpecah, ada seorang anak kecil berlari dari jalan depan rumah, menuju ke arah lelaki itu. Sesampainya di samping lelaki itu, sang anak memperlihatkan secarik kertas. "Lihat keek.. lihat, aku akhirnya juara di tingkat kecamatan dan besok akan maju ke tingkat kabupaten!!!" teriak sang anak tampak bersemangat.

"wah, hebat cucuku. Hebat hebat!! tidak diragukan lagi, kamu mewarisi kecerdasan dari kakek!" ujar sang kakek bangga. Lelaki ini begitu bangga kepada cucu satu-satunya ini, yang digadang bisa mengharumkan nama keluarga besarnya.

"Kek, perjuanganku sampai saat ini begitu berat dan penuh drama loooh.. kakek harus dengar ceritaku." kata sang anak. Kakeknya pun menyimak cerita cucu kesayangannya.

Sang anak sedang mengikuti kompetisi Cerdas Cermat tingkat nasional, namun untuk bisa maju sampai Final harus melalui berbagai macam seleksi terlebih dahulu. Seleksi awal adalah seleksi di tingkat sekolah, dimana anak dengan nilai tertinggi lah yang berhak maju ke tingkat kecamatan. Seleksi di tingkat sekolah diikuti oleh seluruh anak kelas 6 SD, ditentukan oleh Kepala Sekolah. Ada satu anak pintar, sebut saja Mawar selalu menjadi juara, berhalangan hadir di acara seleksi. Mawar meminta tolong kepada Kepala Sekolah untuk mengundurkan jadwal seleksinya sehingga bisa mengikuti seleksi, namun ditolak oleh Kepala Sekolah. Perlu diketahui bahwa Cucu sang kakek adalah anak dari Kepala Sekolah ini. Sang ayah ingin melihat anaknya bisa bersaing di tingkat Kecamatan, jadi menolak permintaan Mawar. Karena selama ini Mawarlah yang selalu mewakili sekolahnya di berbagai ajang lomba cerdas cermat.

"Lho, kok ayahmu menolak permintaan Mawar. Kan kasian dia tidak bisa ikut seleksi." tanya sang kakek kepada cucunya. "Biarin kek, kata Ayah biar aku yang lolos seleksi, jadinya sengaja Mawar gak diikutkan, muehehehehe" kata cucunya tanpa dosa.

Sang anak lanjut cerita perjalanannya di tingkat Kecamatan. Di Kecamatan, anak ini bertemu dengan anak-anak lain yang lebih hebat. Sempat minder diawal, dia nekat untuk melanjutkan perjuangannya. Sistem yang digunakan di Kecamatan sedikit ribet, dimana seleksi dilakukan beberapa kali. Setiap pertemuan, peserta akan mendapatkan poin berdasarkan jumlah soal benar. Namun ternyata, sang anak tidak bisa mengikuti salah satu sesi seleksi. Hal ini sempat membuat sang anak ketakutan, dan akhirnya mengadu ke Ayahnya, yang juga memiliki kuasa di Kecamatan itu.

"Kakek tahu, aku tidak ikut di satu sesi seleksi. Harusnya aku gak dapat poin itu kek. Soalnya kan aku gak garap apapun. Tapi terus sama Ayah dibantuin deh" kata sang anak dengan bangga. Sang kakek kebingungan, "hah? dibantuin bagaimana cuuu". Sang cucu menjelaskan bahwa Ayahnya menggunakan pengaruhnya, untuk memberikan nilai kepada anaknya, yang seharusnya tidak mendapatkan nilai. Nilai fiktif inilah yang membuat anak tersebut bisa lolos di tingkat Kecamatan dan maju ke babak selanjutnya, yaitu Kabupaten. Keputusan ini sempat membuat peserta lainnya melakukan protes, namun karena telah diketok palu dan namanya di daftarkan, maka mereka tidak bisa berbuat banyak.

Sang kakek marah besar kepada cucunya, mukanya merah terang. Rokok ditangannya dibanting ke lantai. Dia berkata dengan nada tinggi, "Sebegitu inginnya kah kamu menjadi juara, dengan menghalalkan segala cara?? Lalu apakah kamu bangga dengan hasil pencapaianmu sekarang ? Sejak awal kamu sudah melakukan kecurangan naak.. Dari awal, mungkin kamu sudah merebut posisi Mawar sebagai wakil SD mu. Selanjutnya kamu mendzolimi wakil dari SD SD lain. Nilai yang seharusnya tidak kamu dapatkan, kamu minta dengan seenaknya. Apakah kamu tidak kasian dengan SD X yang sudah jauh-jauh datang ke Kecamatan hanya untuk menerima kecurangan ini??"

Sang kakek menghela napas sejenak, "Apakah kamu tahu anak, pentingnya arti sebuah proses. Kamu masih muda, janganlah melakukan hal-hal yang menodai proses. Karena kau tahu? Hasil itu sesuai dengan proses yang kita lakukan. Jika hasilmu bagus namun proses yang kamu jalani tidak benar, itu tidak ada artinya. Kamu hanya akan dianggap sebagai sampah di dalam sistem, sampah dalam masyarakat. Keberhasilanmu hanya akan dianggap sebagai sesuatu yang sudah disetting, tidak benar-benar dari jerih payahmu", Kata sang kakek, kemudian menyeruput kopi hitamnya.

"Kau tahu bagaimana perjuangan para pahlawan untuk merebut Kemerdekaan? mereka tidak mengandalkan kenalan, atau mengandalkan kakeknya. Mereka benar-benar berjuang sendiri, dengan semangat pantang menyerah untuk satu tujuan, Merdeka. Sekarang lihat, setiap tanggal 10 November diperingati sebagai hari Pahlawan Nasional. Jasa mereka selalu diingat oleh seluruh rakyat Indonesia. Jika dulu mereka berjuang hanya mengandalkan kenalan, atau main belakang, tidak akan ada yang mengingat mereka. Mereka mungkin akan dianggap sebagai penghianat negara, yang namanya pun tidak pantas kita ucapkan", Kakeknya terus menceramahi cucunya, sampai akhirnya sang cucu membuka suara.

"Iya iya kek, aku tahu kok bagaimana perjuangan pahlawan dahulu. Aku juga sangat terinspirasi dari mereka kek. Aku akan selalu menjadikan mereka pedoman hidupku. Warisan dari mereka tidak pernah aku lupakan. Aku juga ingin sukses seperti mereka kelak."

"Bagus kalau kamu paham, jangan terlalu terpaku pada hasil. Jika melihat orang lain sukses, jadikan sebagai pemicu, jangan malah dicari kejelekannya. Orang jika sudah tertutupi oleh iri dan dengki itu seperti kayu yang terbakar oleh bara api naak.. Akan menggerogoti hatimu." Kata sang kakek sembari menyulut rokoknya.

"Oiya kek, aku mau minta tolong sama kakeeek. Sebenarnya itu tujuanku datang kemari". Tanya sang anak dengan muka serius.

"Apa itu anak, kalau bisa bantu akan kakek bantu"

"Kakek punya kenalan orang Kabupaten tidak? yang kerja di Dinas Pendidikan?"

Singkat cerita, karena lawan di tingkat Kabupaten lebih berat daripada yang sebelumnya, sang anak tidak lolos maju ke tingkat nasional. Sang anak dan Ayahnya tampak tidak terpukul, mereka berusaha mencari pelampiasan untuk menyalurkan kekecewaannya.

Di ruangan ujian, keduanya berteriak-teriak menghujat para pemenang. Menuduh mereka curang dan tidak pantas menang. Sampai pada akhirnya keluar kata-kata "di-bu-nu sa-ja" keluar dari keduanya.
Kata yang ditujukan kepada Hewan saja tidak layak untuk diucapkan, apalagi kata tersebut ditujukan untuk sesama manusia. Kata justifikasi yang keluar dari mulut orang tidak berpendidikan dan terbakar iri dengki. Contoh nyata ketika sebuah kalimat dari mulut lebih cepat daripada logika dan nurani dari otak berproses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar